other page

Jumat, 19 November 2010

Miracle Snow

Menonton Ryuu berlari seusai sekolah adalah hal yang selalu kunantikan. Tapi.. aku ingin bisa lebih dekat dengannya.
 “ Yuka, menatapi Ryuu lagi ya?” seseorang memanggilku dari belakang. aku menoleh “ ah, iya”
“ aku pulang duluan, ya. Ada urusan” pamit Megu. Aku mengangguk dan melambaikan tanganku. “ daaaah!” Megu membalas lambaianku. Megu sudah pulang, tinggal aku sendirian. Kembali menatapi Ryuu.
“ Lho, kok Ryuu nggak ada?!” kaget? Jelas saja kaget. Biasanya dia ada kok. Eh, apa dia sudah pulang ya?
“ ah, Yuka! Kebetulan!” pekik seseorang dari belakang. Suaranya familiar. Itu.. Ryuu! “ ada susu?! Susu!”. Aku yg kebetulan membawa susu kotak memberikannya pada Ryuu. Ryuu.. tidak mungkin
 “ kucing buangan?” tanyaku asal. ryuu menggaruk kepalanya.
“ waktu latihan, ada suara ngeong... kayaknya dia lapar,” jawabnya. “ tapi... gimana ya? Aku ingin memeliharamu, tapi di rumahku sudah ada 2 ekor” gumam Ryuu. Ternyata, Ryuu suka kucing. Manis juga. Kalau kucing ini kupelihara, aku bisa dekat dengan Ryuu!
“ Ryuu, aku mau memeliharanya!” celetukku keras. Ryuu melongo kaget.
“ eh? Nggak apa – apa? Pernah pelihara kucing?” tanyanya. Glek!
“ eh, nggak..” ceplosku. Payah! Aku nggak tahu cara memeliharanya.
“ hmm... begini saja, deh. Aku akan datang beberapa kali seminggu ke rumahmu sampai kau terbiasa. Aku kan yang memungutnya, jadi harus ikut bertanggung jawab.” Jelas Ryuu panjang. Aku kaget bukan kepalang. “ i.. iya!” jawabku gagap. Hore!
“ mau diberi nama apa?” tanya Ryuu
“ karena warnanya putih, bagaimana kalau “ Snow” saja?” usulku.
“ mudah ditebak” gumamnya.  Oke, Aku akan berusaha! Hari ini aku mau ke Aaron Pet Shop dulu ah..
#
eh, makanan kucing semahal ini?. aku janji sama mama belinya pakai uang saku. Tapi demi kedekatanku dengan Ryuu.
55.000 ribu rupiah” ujar kasir. Glek! Aku hanya pasrah dan pulang ke rumah.
“ aku pulang” ujarku lesu.
“ kyaaa!!!” deg! Itu suara mama!
“ mama, ada apa?!” pekikku tak kalah kaget. Mama sedang duduk dg baju berserakan di mana – mana.
“ baju yang sudah dilipat rapi berantakan lagi” gerutu Mama. Uh!
Miaw!!
“ tapi, cardigan favorit Yuka juga hancur” gerutu mama lagi. Kali ini dia menunjukkan cardigan biru favoritku. Deg!  Sa... sabar, ini kucing pemberian Ryuu. Currrrrr....
K... KYAAA!!!” pekikku sekeras mungkin. Bagaimana tidak?! Snow pipis di sepatuku!
#
“ kucing sama sekali nggak lucu!” gerutuku kesal “ pipis di sembarang tempat, nggak patuh, suka mencakar!” gerutuku lagi. “ aku nggak tahan lagi”
“ baru hari ke – 3. Kalau nggak suka, kasih ke orang saja” saran Megu.
“ ugh.. ta.. tapi..” aku menggaruk kepalaku. Tiba – tiba saja Ryuu nongol di depanku.
“ wah, luka cakaran. Kau repot, ya?” tanyanya,“ ini hadiah untuk Yuka” ujarnya sambil memberiku sebuah buku. “ aku mencari buku yang mudah dimengerti oleh pemula”
ma.. makasih” ucapku pelan. aku senang sekali!
“ kucing itu suka seenaknya, makanya rada repot kalau mereka nggak patuh, kan?” tanya Ryuu.
“ i.. iya” jawabku malu – malu. Bikin gila, malah.
“ tapi, itulah uniknya kucing! Egois dan kelihatannya kuat, tapi nggak bisa dilepas. Tahu – tahu kita jadi lengket dengannya” celetuk Ryuu. Deg!
Aku harus berterima kasih pada Snow untuk hal yang satu ini. Berkat Snow, Ryuu makin dekat denganku. Aku bisa makin mengenal Ryuu.
“ o ya, Yuka.” Celetuknya.
“ selesai latihan klub, aku akan ke rumahmu. Aku punya hadiah untuk Snow” ujarnya. Eh?
“ nanti beritahu alamatmu, ya!” pekiknya girang. Bo..
Bohong! Ryuu mau ke rumahku?!
#
“  nggak ada,” ujarku sambil mengaduk – aduk isi lemari. “ blus dan rok favoritku..”
“ Miaw..” Snow mengeong dekat kakiku dan mendengkur
“ apa sih, Snow?! Lapar kok mendengkur!” bentakku. “ nggak lucu, ah. Iya, iya, mau makan ya?” tanyaku lembut. Aku berlari menuju dapur, “ uwa! Aku lupa beli makanan kucing!”
Terpaksa aku mengambil niboshi*. Dengan langkah lemas aku pergi ke kamar lagi dengan membawa semangkuk niboshi untuk Snow.
“ maaf, ya. Hari ini makan ini, saja” ujarku sambil menyodorkan mangkuk itu pada Snow. Dia mengendus  - endus. Ting! Tong!
“ Snow, Ryuu datang. Ayo sambut sama -  sa..” kulihat Snow merintih kesakitan. “ eh?” Snow mengeong dan mulutnya mangap – mangap dari tadi. “ ke, kenapa, Snow?!” tanyaku keras. Snow.. tampak menderita sekali. Tubuh kecilnya kelihatan sangat tersiksa. Bagaimana ini? Kalau begini, Snow bisa mati!
#
Ting! Tong!  Ah, Ryuu!
 “ Ryuu, tolong Snow!” ujarku keras. Ryuu yang baru datang pun kaget dan segera menolong Snow. “ nah, sudah tidak apa – apa”
“ Snow, dikasih makan Niboshi ya?” tanyanya, “ tulang niboshinya nyangkut di tenggorokan.” Jelasnya sambil menunjukkan tulang niboshi  yang kecil. “ Snow masih kecil. Belum bisa makan niboshi.” Tak terasa, air mataku meleleh.
syu.. syukurlah!” kupeluk Snow dengan cinta. Dia mengeong dekat telingaku. Hrrr..
“ ah, dia mendengkur lagi. Padahal kita mencemaskannya” gerutuku kesal.
“ ng.. Yuka. Suara dengkur itu tanda sayang kucing.” Celetuk Ryuu.
“ eh, tapi di komik – komik katanya ini dengkuran bobo” ujarku kaget. Mirip, sih.
“ kedengarannya memang begitu,” dia mengelus Snow yang ada di pangkuanku.
“ Snow memberi tanda kalau dia suka sama Yuka” jelasnya. Eh? Apa iya? Snow berpikir begitu tentang aku? Ryuu memberikan seutas kalung pita cantik. “ ini untuk Snow” ujarnya tulus. Dia memasangkan kalung itu di leher Snow.
“ wa, lucunya!” ujarku senang. Snow mengeong lagi. Miaw!
#
Hari – hari kujalani bersama Snow. Dan Ryuu juga rajin datang ke rumahku untuk menengok Snow. Aku merasa lebih dekat dengan Snow... juga dengan Ryuu.
“ Yuka sudah terbiasa sama kucing, ya.” Celetuk Ryuu asal. aku menoleh malu. “ luka cakarnya berkurang. Nggak perlu bantuanku lagi, dong.” Ujarnya, “ nggak baik juga anak lelaki sering main ke tempat anak perempuan”  Ah.. aku lupa.. Ryuu datang untuk Snow.. aku sudah bisa memelihara Snow, kami akan kembali seperti dulu.
“ jadi, gantian aku yang akan ke rumahmu dengan Snow. Boleh?” tanyaku buru – buru. Ryuu mengangguk dan tersenyum.
“ boleh, kutunggu ya!” jawabnya. Aku nggak mau cuma menatapnya. Ini kesempatan terakhirku. Aku akan menyatakan perasaanku pada Ryuu!
#
Ting! Tong!
“ Yuka, selamat datang!” sambutnya ceria.
“ si... siang!” ujarku. Deg! Jaga aku supaya bisa lancar menyatakan perasaanku ya, Snow.
Miaw!
Deg! Gimana nih, harus cepat bilang...
“ o, oh ya! Ini kue buatanku” kusodorkan sekotak kue pada Ryuu. Dia mencicipi kue buatanku.
“ mm, enak!” celetuknya, “ berkat Snow, aku bisa makan kue buatan Yuka” deg! Ah.. sekarang.
“ Ryuu, aku... suk..” aku terlalu gugup ...
“ Grrr..!!! Rrrr..!!”kami berdua melihat Tantan dan Snow yang saling menggeram.
“ s.. Snow! Sedang apa?!” bentakku. “ hentikan, Snow!” mereka berkelahi kemudian berlari ke arah meja dan...
TRANG! Makanan tumpah ke baju dan rambutku.
“ Kyaa!”
“ Yuka!” pekik Ryuu kaget. Susah payah..bikin kue dari pagi...juga baju dan rambutku..padahal aku berniat menyatakan perasaanku pada Ryuu!
Miaw! Cukup..
Miaw! PLAK!
aku.. benci Snow!” bentakku keras pada Snow. Astaga..padahal aku nggak bermaksud memukul Snow. Aku memutuskan kabur dari rumah Ryuu.
“ yuka!” panggil Ryuu dari dalam rumah. Tapi aku tak mengindahkan panggilannya. Aku terus berlari dan akhirnya berhenti di taman bermain.  Memalukan! Hancur sudah! Ryuu pasti menganggapku cewek jahat. Aku.. nggak bisa bilang suka. Snow... tadi kutinggal di rumah Ryuu. Sekarang sedang apa, ya?
“ Yuka!” pekik Ryuu dari belakang. Deg! Jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku kembali berlari “ ah, tunggu! Snow hilang!” ujarnya terengah – engah. Eh?!
“ hilang?” tanyaku.
“ tadi, Snow mengejarmu. Sudah kucari, tapi belum ketemu juga”jelasnya. Deg! Snow..
“ ke, kenapa dia mengejarku?” gumamku pelan.
“ karena, dia nggak biasa di rumah asing. Snow hanya punya Yuka” celetuk Ryuu. Ah.. aku nggak memikirkan perasaan Snow. Aku egois. Kalau Snow hilang, itu gara – gara aku!
Ryuu, tolong bantu aku mencarinya!” ujarku semangat. Dia mengangguk. Maaf, maaf, Snow! Bilang suka bisa kapan saja. Tapi, aku malah menyalahkan Snow atas ketidak – beranianku. Maaf!
Kucari Snow dari kolong mobil sampai semak – semak..
“ ketemu!” pekikku girang. “ Snow, ayo sini..” aku berusaha membujuk Snow untuk pulang tapi dia menolak. Tubuhnya gemetar ketakutan. Snow..
“ wajar  Snow benci aku. Aku.. nggak memahami perasaan Snow. Aku sudah gagal merawatnya..” keluhku sedih.
“ yuka..”
“ Ryuu, tolong pelihara Snow ya. Sepertinya dia sudah membenciku” kali ini air mataku menetes. “ aku nggak bakat pelihara kucing. Yah, sejak awal memang bukan karena suka, sih.”
 “ Snow lebih bahagia bersama Ryuu” Lho? Kenapa aku nangis?
“ Yuka..” ujar Ryuu lirih. Kenapa aku begitu sedih dibenci Snow? Kenapa,, Aku.. jadi menyukai Snow seperti ini..
Miaw..
Snow beranjak dari persembunyiannya
“ soal layak tidaknya jadi tuan, hanya Snow yang menentukannya.”
Snow.. awalnya, aku memelihara Snow agar bisa dekat dengan Ryuu. “ sini, Snow..” Sangat repot mengurusinya. Tapi... Deg! Deg! Deg! Snow mengendus tanganku dan mendengkur. Tapi kini.. Aku tulus menyayangi Snow! “ maaf, ya. Snow” ujarku tulus dan memeluknya penuh maaf. “ maaf” dan akhirnya, dia memilih aku. Zzzz..
“ dasar, Snow! Dia malah tidur” gerutuku. Snow tidur di dalam keranjang yg kubawa.
“ maaf, ya. Aku merepotkan.” Kataku pada Ryuu. Akhirnya, aku nggak bisa bilang perasaanku. Tapi, itu bisa kapan saja.
“ Yuka mirip kucing ya. Tahu – tahu nggak bisa dilepas” celetuk Ryuu asal. Deg!
“ artinya apa?” tanyaku kaget. “ apa, ya?” Ryuu malah balik bertanya.
Tapi mungkin akan segera terwujud. Snow itu.... Pasti Cupid,
Si penyatu cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar